A LITTLE ASK PROMISE
Beruberukaten kanzo dakoni seimei tochi no shinju..
-Menyikap tabir tirai selubung hati dimana sang mutiara hidup bertahta-
PROLOG
Dalam dinginnya angin malam, kala rembulan meremang sendu.
Sendiri ku berjalan, tanpa bayangmu yang tak tersentuh ujung kuku..
Ingin ku rengkuh bayangmu, merangkainya dalam anganku,
dan merangkai anganmu dalam dekapan rinduku..
Namun luluh lantah, harapku terasa palsu..
Meski berat, kulawan dan kutentang Sang Waktu,,
yang tidak mengizinkan kita memutar film masa lalu..
Hingga kini ruang hatiku beraroma sepi..
Hanyutkan resah harap terbawa di pengasingan yang tak berati,
Tumpuhan harapan di hatiku
mulai memudar. Masih ingin kumenantinya disini. Namun, waktu tidak lagi
mengizinkan. Matahari mulai turun dari peraduannya, hari pun semakin
petang. Aku bangkit dari tempat duduk. Mengayunkan kaki yang terasa
berat.
Andikan saat ini aku memiliki jin Aladin, yang dapat
mengabulkan semua permintaan, hanya satu yang kuminta. Aku ingin menatap
mata indahnya, dan membisikkan kalimat perpisahan di telinganya. Aku
ingin dia melepas kepergianku, dengan senyumnya yang membuatku melayang.
Meski semua itu mungkin saja tidak akan terjadi, tapi aku tidak mampu
membuat diriku berhenti berharap.
Bagai magnet yang tidak dapat
ditolak. Aku menoleh sekali lagi ke koridor masuk. Nihil. Tak kulihat
tubuh semapai itu. Kumantapkan kakiku untuk melangkah meninggallkan
Jepang.
"Reiga....! " Ternyata Tuhan masih menyayangiku. Seorang
gadis, dengan gaun pengantin putih berlari lurus ke arahku. Aku berani
bertaruh, sebagian besar mata yang melihatnya pasti berfikir gadis itu
kabur meninggalkan pernikahannya. Namun aku tau, bukan itu yang
sebenarnya terjadi.
Kulihat mata biru yang memancarkan kesedihan dan ketakutan. Ini memana bukan pertama kalinya dia mengenggam erat tanganku. Tapi entah kenapa genggamannya hari ini terasa berbeda dari biasanya. Terasa lebih erat dari biasanya. Dan sepertinya ada yang ingin dia ucapkan lewat genggaman ini.Seolah menahanku untuk tidak pergi. Deraian air mata yang mengalir di pipinya kuhapus. Barisan aksara, yang kuraingkai dalam kalimat perpisahan tak mampu kuucap.
Aku merogoh saku celana, dan kutemukan sebuah kotak kecil yang diterima dengan raut wajah tak mengerti.
"Suatu hari nanti, akan kusematkan cincin ini di jari manismu. Aku janji." Selarik senyum terlukiskan di bibirnya. Aku mencintaimu.
"Sekarang aku harus pergi." Kubelai rambut bidadari cantikku.
Dan melangkah meninggalkan sebagian hatiku bersama.
Kulihat mata biru yang memancarkan kesedihan dan ketakutan. Ini memana bukan pertama kalinya dia mengenggam erat tanganku. Tapi entah kenapa genggamannya hari ini terasa berbeda dari biasanya. Terasa lebih erat dari biasanya. Dan sepertinya ada yang ingin dia ucapkan lewat genggaman ini.Seolah menahanku untuk tidak pergi. Deraian air mata yang mengalir di pipinya kuhapus. Barisan aksara, yang kuraingkai dalam kalimat perpisahan tak mampu kuucap.
Aku merogoh saku celana, dan kutemukan sebuah kotak kecil yang diterima dengan raut wajah tak mengerti.
"Suatu hari nanti, akan kusematkan cincin ini di jari manismu. Aku janji." Selarik senyum terlukiskan di bibirnya. Aku mencintaimu.
"Sekarang aku harus pergi." Kubelai rambut bidadari cantikku.
Dan melangkah meninggalkan sebagian hatiku bersama.